Tampilkan postingan dengan label abah Hasyim Muzadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abah Hasyim Muzadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

DO’A UNTUK KESELAMATAN

DO’A UNTUK KESELAMATAN


       Jangan lupa kamu membaca Surat Al-Fath : 1-5 setelah shalat shubuh dan setelah shalat maghrib. Sedangkan setelah sahlat dzuhur, untuk memperkokoh kecerdasan, maka hendaknya kamu berusaha untuk membaca Al-Qur'an, sekalipun sedikit, walaupun itu hanya berupa Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash dan Al-Mu'awidzatain. Mengapa demikian?, karena potensi yang ada pada manusia itu kadang berkembang, kadang menggenang. Sama-sama lulusan S1, namun ada yang berkembang dan ada yang pengangguran. Ada anak yang pinter-nya itu kelihatan tajam dan bisa menyelesaikan problema, ada yang kepandainya tidak terasa. Jadi, ada faktor lain selain faktor ilmu, yaitu faktor kecerdasan.
       Di samping faktor kecerdasan di atas, ada juga faktor lain, yakni pengembangan dan mengalirnya potensi tersebut menjadi solusi. Dorongan untuk mengembangkan dan mengalirkan potensi tadi tidak cukup bermodalkan pinter saja, akan tetapi harus didorong bersama dengan idzin dan pertolongan Allah SWT. Oleh karena itu, engkau jangan lupa untuk membaca Surat Al-Fath : 1-5 tiap ba'da shubuh dan ba'da maghrib, sedangkan ba'da dzuhur, hendaknya kamu membaca Al-Qur'an, yaitu membaca Ayat-ayat yang ringan engkau baca.

Minggu, 13 April 2014

Khilafah dalam Islam perspektif salah satu tokoh NU

Khilafah dalam Islam [1]
Oleh: K.H. Hasyim Muzadi


       Umat Islam hendaknya beribadah berdasarkan syari'at Islam, oleh karena itu mereka membutuhkan sebuah kitab pedoman yang dijadikan pijakan dalam menjalankan ibadah sehari-hari. Dalam hal ini, kitab pedoman yang dimaksud adalah kitab-kitab fiqih, misalnya; kitab Kifayatul Akhyar.
       Di dalam kitab-kitab itu terdapat sumber-sumber pengambilan hukum berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, sehingga kaum muslimin akan terbiasa mengerti agama Islam berdasarkan sumber pengambilannya. Karena jika mereka hanya mengetahui agama Islam secara sepotong-sepotong, maka dikhawatirkan akan menimbulkan sikap ekstrimitas maupun liberal disebabkan ketidak-seimbangan ilmu pengetahuan yang mereka miliki.
       Selanjutnya kaum muslimin bisa meningkatkan kualitas ibadah mereka dengan cara melakukan ibadah secara maknawi, yaitu ibadah berdasarkan makna substansial dari ibadah itu sendiri. Jadi, ibadah yang dilakukan tidak hanya berdasarkan fiqih dan formalitas semata, akan tetapi ibadah yang didasari faktor kejiwaan bagaimana mereka bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah-ibadah tersebut.
       Pada masa Rasulullah SAW, para Shahabat RA tidak diperkenankan untuk melakukan ijtihad, karena pada saat itu wahyu masih turun dan mereka bisa bertanya langsung kepada Nabi Muhammad SAW tentang masalah-masalah yang tidak mereka ketahui.
Edufunia Right. Diberdayakan oleh Blogger.