Sabtu, 21 Desember 2013

Empat Tipe Anak Menurut Al-Qur'an

4 tipe anak menurut al-Qur'an
Cacatan Pesantren bersama Abah Hasyim 


     
Mendo’akan seorang anak adalah suatu yang penting, namun sekarang sudah banyak yang melupakan hal itu. Banyak orang tua mengira kalau anak hanya memerlukan makan, minum, sangu (bekal) dan sekolah. Padahal kenyataannya, semua itu belum cukup, karena anak-anak kita memerlukan do’a kita sebagai orang tua. Jika orang tua hendak mendo’akan putera-puterinya, maka dia harus mendo’akan mereka satu persatu. Orang tua mesti mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masing-masing anaknya. Al-Qur’an telah menyebut anak dalam 4 tipe:
1.    Anak yang disebut Qurratu A’yun. Secara bahasa, kata Qurratu A’yun berarti; biji mata. Akan tetapi yang dimaksud dengan anak yang Qurratu A’yun adalah anak yang sudah beres dunia dan akhiratnya, yang beres hidupnya, yang beres akhlaqnya kepada orang tua dan beres perilakunya terhadap lingkungannya, baik lingkungan masyarakat maupun lingkungan alam. Istilahnya, anak yang Qurratu A’yun adalah anak yang jangkep (sempurna) agamanya, jangkep hidup dunianya, sehingga dia akan memperoleh kebaikan di dunia maupun di akhirat (Fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah). Perumpamaan anak yang Qurratu A’yun adalah anak pintar, shalih, berakhlaq mulia, bermanfaat dan bisa mengerti kondisi orang tuanya.
2.    Anak yang menjadi hiasan (pepaes ; zinah). Anak tipe ini adalah anak yang bisa dibanggakan oleh orang tuanya ketika di dunia saja, karena kehidupan akhiratnya masih belum jelas. Misalnya anak yang menjadi Bupati ataupun Gubernur. Seorang anak yang bisa dibanggakan oleh orang tuanya sudah bisa disebut akan dalam kategori zinah (perhiasan) ini, baik dia bisa mendatangkan manfaat maupun tidak. Perumpamaan anak kategori zinah untuk saat ini adalah peserta Indonesian idol, sekolahnya bernama Akademi Fantasi, dan isinya hanya gaya, mejeng, pepaes, berbusa-busa dan fantasi belaka.
3.    Anak yang menjadi fitnah, yaitu anak yang bisa mendatangkan fitnah untuk keluarga. Misalnya; Seorang ayah mempunyai perilaku yang baik, namun tingkah laku anaknya tidak karu-karuan (berperangai buruk), misalnya; mengonsumsi narkoba. Inilah yang kemudian diistilahkan dengan “anak polah, bopo kepradah”. Pada masa sekarang juga berlaku istilah “bopo polah, anak kepradah”, misalnya; Seorang ayah dikabarkan ditangkap polisi karena suatu kasus, kemudian anaknya menjadi terkucil di sekolah. Meskipun demikian, yang paling banyak terjadi adalah anak yang membawa fitnah bagi orang tuanya.
4.    Anak yang menjadi musuh orang tua. Misalnya; Seorang akan ketika masih kecil dididik oleh orang tuanya, ketika sudah besar, anak itu berani melawan, berkhianat, bahkan tega  membunuh orang tua kandungnya sendiri.

       Jadi, anak kita tidak cukup hanya dimodali dengan materi, sekalipun materi adalah penting bagi mereka. Anak kita tidak cukup dimodali dengan ilmu, sekalipun ilmu juga sangat penting bagi mereka. Selain materi dan ilmu, anak kita harus dimodali satu hal lagi yaitu dimohonkan ampun serta dido’akan secara rutin. Mudah-mudahan kita semua diberi keluarga yang sakinah, keluarga yang di dalamnya ada suami yang bertanggung-jawab, istri yang taat, anak-anak yang shalih dan abrar (tidak  ngisin-ngisini), cukup sandang, cukup pangan, rezeki yang berkah, hidup di dunia luas dan cukup, serta menghadap kepada Allah SWT dalam keadaan Husnul Khatimah. Amiin.


Di dalam hari-hari maghfirah ini, yang pertama kali harus kita lakukan adalah mohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa-dosa. Kemudian yang kedua adalah kita mohonkan maghfirah (ampunan) kepada Allah SWT untuk para leluhur kita, baik yang sudah wafat maupun masih hidup. Kita mendo’akan mereka dengan cara mengirim Fatihah serta do’a. Leluhur yang  sudah wafat dido’akan supaya semua amal mereka diterima di sisi Allah SWT dan semua dosa-dosa mereka diampuni oleh-Nya, sedangkan leluhur yang masih hidup, kita do’akan semoga mereka diberi kehidupan yang jembar (luas) yang di dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan Dzu sa’atin. Yang dimaksud dengan kehidupan yang jembar adalah luas pikiran, hati dan rezekinya. Orang-orang yang rajin mendo’akan leluhur, niscaya akan rajin dido’akan oleh anak-cucunya. Sama dengan orang yang suka melayat jenazah, maka ketika dia meninggal dunia, tentu banyak orang yang melayat untuknya. Begitu juga dengan orang yang suka membaca tahlil (bagi yang mau tahlil) untuk orang yang wafat, maka dia akan ditahlili ketika sudah wafat.

1 komentar:

Edufunia Right. Diberdayakan oleh Blogger.