Kamis, 14 November 2013

HIKMAH PERNIKAHAN

Saling mengisi merupakan salah satu hikmah PERNIKAHAN
Cacatan dari PesMa Al-Hikam Malang
 
wedding ring


Assalamualaikum, sahabat edufunia...  .^_^. 
Alhamdulillah, ini adalah cacatan pengajian/arahan dari abah hasyim muzadi di Al-hikam Malang. Daripada hanya tersimpan di laptop lebih baik akak zaenal postkan di blog edufunia ini. bersamaan dengan di postingnya tulisan ini yang nge-post juga pengen nikah. hehehe... ok dah, Semoga bermanfaat dan Salam Edufunia...!!

       Setelah Allah SWT memerintahkan kita untuk kasbul ma'asy (mencari kebutuhan hidup), Allah SWT memerintahkan kita agar memenuhi kebutuhan syahwatul farji (kebutuhan biologis). Kebutuhan biologis/sex ini hanya melalui satu pintu, yaitu pernikahan, sedangkan pintu lain tidak diperbolehkan. Pemenuhan kebutuhan yang tidak diatur akan mengakibatkan kerusakan tatanan keluarga, struktur sosial kemasyaraktan dan juga penyebaran penyakit. Karena zina adalah jalan yang buruk.
       Muqaddimah hukumnya boleh, tapi tidak boleh kebablasen. Yang dimaksud Muqaddimah di sini adalah proses sebelum perkawinan. Muqaddimah dilakukan melalui perkenalan bil bashar (secara fisik), misalnya: saling bertemu. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan bil bashirah (secara psikis) dengan cara mengamati apakah calon pasangannya itu baik atau tidak?. Ukurannya adalah ukuran agama dan akhlaq, sebab tidak ada orang yang hidupnya sukses tanpa ada wanita shalihah di belakangnya; begitu juga tidak ada laki-laki yang hebat, tanpa ada istri yang hebat (shalihah) di belakangnya. Dalam hal ini tidak boleh melihat sesuatu terlalu jauh, karena ndak kelihatan; begitu juga tidak boleh melihat terlalu dekat.
       Proses selanjutnya dinamakan dengan khitbah (pinangan). Pinangan itu belum masuk nikah. sedangkan proses yang terakhir adalah nikah. Rasulullah SAW bersabda:
اَلنِّكَاحُ سُنَّتيْ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ
       Maksud Hadits ini adalah: Lembaga nikah itu sunnah Rasul. Kalau ada orang menentang sunnah ini, maka dia bukan termasuk ummat Nabi Muhammmad SAW.
perjanjian yang amat kukuh
       Yang dimaksud فَمَنْ رَغِبَ  (orang yang menentang) di sini bukan berarti orang yang tidak kawin atau belum kawin itu dianggap keluar dari umat Nabi Muhammad SAW, namun orang yang menentang lembaga perkawinanlah yang dimaksud. Artinya dia berpandangan bahwa hidup ini ora usah kawin, seperti halnya ayam, bebek, dsb. Apakah ada orang yang begitu di dunia ini? Ada dan banyak.
       Hampir separoh dari deretan negara di benua Eropa tidak menggunakan lembaga perkawinan sebagaimana syari'at Nabi Muhammad SAW. Mereka atas nama demokrasi, maka orang laki-laki diperbolehkan kawin dengan wanita; orang wanita boleh kawin dengan wanita; dan laki-laki juga boleh kawin dengan laki-laki. Semua itu dianggap sah menurut hukum negara. Kalau wanita vs wanita, saya tidak bisa membayangkan, karena saya tidak pernah menjadi perempuan. Tapi kalau laki-laki kawin dengan laki-laki, mau apa dia?, apa mau bermain anggar? Hehe...
       Jadi yang dimaksud فَمَنْ رَغِبَ  di atas adalah mereka yang menentang atau menghilangan lembaga atau aturan perkawinan. Kalau seseorang masih belum kawin, itu hanya masalah nasib; memang potongannya belum nututi; sudah punya inceng-incengaan lalu keduluan orang lain; atau sudah cocok, tapi tidak berani karena masalah biaya. Itu semua hukumnya tidak apa-apa. Akan tetapi kalau ada orang menentang lembaga perkawinan, berarti dia kafir (keluar dari Islam).
       Sebenarnya undang-undang Eropa tentang perkawinan di atas sudah ditentang berat oleh orang-orang Katholik, Protestan, dsb. tapi mereka ndak kuat karena masih kalah kuat dengan kaum-kaum sekuler yang sudah tidak lagi menghitung agama sebagai panduan hidup.
       Di dalam Al-Qur'an, posisi laki-laki dan wanita itu tidak atas bawah, tetapi sama-sama mempunyai kelebihan. Dalam posisinya sebagai makhluk Allah SWT, sebenarnya posisi laki-laki dan perempuan itu sejajar. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisaa' : 34 :
ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr& 4
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
       Allah SWT menciptakan laki-laki dan wanita itu masing-masing mempunyai kelebihan. Laki-laki lebih kuat fisiknya, sedangkan wanita lebih lembut fisiknya. Di mana letak kekuatan wanita?, yaitu pada sifat lembutnya itu. Jadi kekuatan wanita itu justru terletak pada kelembutannya, sehingga orang laki-laki merasa senang dan ingin melindunginya.
       Laki-laki lebih tegas, sedangkan wanita lebih teliti. Wanita itu nomor satu dalam ngitung-ngitung, ngiling-ngiling, cerito. Misalnya dalam menceritakan peristiwa tabrakan yang terjadi hanya 5 menit, kaum wanita bisa menceritakan kejadian itu dalam 5 hari. Jadi, kalau orang laki-laki itu makro, sedangkan wanita itu mikro. Maksudnya: Laki-laki biasanya menyelesaikan permasalahan secara umum, sedangkan wanita itu ngopeni masalah yang kecil-kecil.
       Laki-laki pada umumnya itu cerdas, akan tetapi wanita itu lebih intuitif atau perasaannya lebih peka. Jangan merasa bahwa ketika kamu berada di hadapan wanita, tingkah-lakumu tidak direkam, karena dia sudah tahu apa yang engkau mau dan hal itu tidak perlu kursus. Namun, wanita juga banyak yang cerdas, buktinya sekarang ini juara-juara kelas banyak berasal dari kalangan wanita. Karena yang laki-laki sekarang ini hanya gaya tok. (sindiran untuk santri putra)
       Wanita lebih tahan, sedangkan laki-laki lebih agresif. Bayangkan!, mana mungkin kamu mampu mengurus anakmu dari lahir sampai usia 2 tahun. Akan tetapi kaum wanita mempunyai ketahanan untuk itu.
       Nah, di dalam hidup bersama, datanglah keputusan Allah SWT bahwa yang bertugas sebagai penanggung-jawab keluarga adalah laki-laki. Kenapa demikian?, karena laki-laki lebih bisa bertanggung-jawab, oleh karena itu di dalam Al-Qur'an disebut قَوَّامُوْنَ, maksudnya: "orang yang harus menegakkan hak-hak wanita". Jadi, posisi laki-laki di dalam keluarga itu bukan penguasa, melainkan penanggung-jawab.
       Laki-lakilah yang bertugas menegakkan hak-hak wanita. Adapun wanita itu mempunyai hak-hak antara lain: Mendapat nafkah lahir-bathin, penjagaan, ibadah, makan-minum, nafkah anak, harga diri, keselamatannya, dsb. Semuanya menjadi tanggung-jawab laki-laki. Sekali lagi, posisi laki-laki dalam keluarga bukan penguasa, tetapi sebagai penanggung jawab. Kalau laki-laki berpikir sebagai penguasa dalam keluarga, maka dia mudah untuk menyakiti istrinya. Posisi yang benar adalah laki-laki harus tanggung jawab penuh terhadap hak-hak wanita.
         Nah, berkaitan dengan budaya suatu bangsa, seperti di Indonesia, misalnya: wanita ikut kerja dan laki-laki juga kerja; sebenarnya menurut yuridis formal hukum fiqih, rezeki yang diperoleh oleh suami itu adalah milik istri dan anaknya; sedangkan kalau seorang istri bekerja, maka hasil kerjanya itu menjadi miliknya sendiri, karena istri tidak dibebani untuk memberi nafkah. Jadi, sudah sebaik-baik wanita Indonesia jika dia bekerja kemudian hasilnya digabung dengan harta suami, kemudian dipakai bersama-sama. itu sudah Masya Allah luhurnya wanita Indonesia. Oleh karena itu, di Indonesia dikenal warisan gono-gini.
       Warisan gono-gini itu sebenarnya bukan syari'at Islam, sedangkan yang sesuai dengan syari'at Islam adalah faraidh. Adanya gono-gini ini dikarenakan wanita ikut kerja bersama suami, sehingga dia mempunyai hak, kemudian bagiannya itu diambil terlebih dulu sebelum berlaku hukum waris. Hal itu memang diperbolehkan, karena wanita tidak mempunyai kewajiban untuk memberikan nafkah kepada suami dan anaknya. Jadi kalau suami-istri sudah berkerja sama, itu sudah luar biasa dan bukan termasuk hukum, melainkan sudah masuk lingkup budaya. Yang kebangetan adalah sang istri disuruh kerja, sedangkan yang laki-laki ngerek manuk (tidak kerja), misalnya: di Solo, Klaten, Jogja, dsb. Sebenarnya hal ini menunjukkan hilangnya tanggung-jawab laki-laki terhadap istri.
       Sekarang kalau laki-laki itu bertanggung-jawab penuh atas wanita, maka imbalannya adalah wanita harus taat secara penuh kepadanya. Kalau istri ngawur, suami boleh nyentak, tapi tidak boleh menyakiti maupun melukai fisiknya. Istri harus taat penuh, karena suami juga bertanggung-jawab penuh. Sehingga kesetiaan itu berjalan setingkat dengan tanggung-jawab.
       Kalau tanggung-jawab suami itu melorot, maka istri boleh protes. Misalnya: Suami selama tiga hari tidak pernah pulang, istri boleh tidak memperkenankan suaminya masuk ke dalam rumah. Saya mempunyai teman yang beristri dua, dan menurutnya lebih repot dari pada mempunyai istri tiga. Dia tidak boleh tidur di rumah istri yang pertama dan juga tidak boleh tidur di rumah istri kedua, akhirnya dia tidur di kantor NU. Jadi, di sini ada satu ditambah satu sama dengan nol. Padahal mestinya satu tambah satu ada dua, itu adalah hitungan matematis (rasional), namun dalam hal perasaan (emosional) ada kalanya benci tapi rindu.        
       Ketika kewajiban suami sebagai penanggung-jawab sudah turun pada tingkat yang tidak bisa diterima, maka istri boleh mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Akan tetapi perceraian yang dikarenakan hanya karena alasa tidak cocok, hukumnya tidak boleh. Itulah yang di dalam Hadits disebut dengan
أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللهِ اَلطَّلاَقُ
Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian
       Maksudnya: Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah perceraian, karena akibatnya bisa fatal bagi anak, misalnya: anak akan mengalami goncangan-goncangan kehidupan.
       Kalau tanggung-jawab laki-laki sudah menurun, kemudian ada hak wanita untuk minta cerai. Maka sepanjang itu laki-laki tidak tanggung-jawab atau tidak bisa memberi nafkah lahir-bathin, pengadilan boleh menerima gugatan itu. Akan tetapi kalau hanya masalah "tidak suka", maka harus diberesi dulu sebelum menerima perceraiannya. Bagaimana caranya?, yaitu dengan cara rundingan keluarga. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisaa' : 35
÷bÎ)ur óOçFøÿÅz s-$s)Ï© $uKÍkÈ]÷t/ (#qèWyèö/$$sù $VJs3ym ô`ÏiB ¾Ï&Î#÷dr& $VJs3ymur ô`ÏiB !$ygÎ=÷dr& bÎ) !#yƒÌãƒ $[s»n=ô¹Î) È,Ïjùuqムª!$# !$yJåks]øŠt/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã #ZŽÎ7yz ÇÌÎÈ
Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
            Maksudnya: Hendaknya didatangkan keluarga atau sesepuh dari pihak wanita dan laki-laki untuk berunding dan memberi nasehat kepada pasangan suami-istri. Jika memang yang menjadi masalah di sini bukan berkaitan dengan hilangnya tanggung-jawab suami. Mungkin pertikaian suami-istri di sini disebabkan ada godaan kiri-kanan.
       Betapapun tinggi derajat laki-laki, kalau ada kehancuran keluarga, maka derajatnya akan turun. Anehnya TV-TV kita saat ini kerjaanya adalah ngubek-ngubek masalah keluarga. Itu hukumnya adalah tidak boleh, karena laki-laki berkewajiban untuk menjaga rahasia wanita, dan sebaliknya. Wanita tidak boleh ngeler rahasia suaminya di pasar, begitu juga laki-laki tidak boleh menceritakan kelemahan istrinya kepada orang lain. Jadi, keluarga itu daerah otonom. Lho kok TV kok edel-edel. Anehnya, yang diedel-edel itu kok merasa bangga mergo mlebu TV. Itukan hanya orang mengong yang melakukannya!. Padahal dia telah membuka rahasianya sendiri di muka masyarakat, kok ndak isin?, Belum lagi pengaruh yang sangat jelek yang bisa menimpa anak-anaknya. Sekarang banyak artis-artis yang mengeluh karena diinfokan oleh infotainment, bahwa mereka yang mestinya tidak ingin cerai, justru malah menjadi cerai, karena seiring digosipkan ke sana ke sini. Padahal orang membuat orang lain bercerai itu berdosa dan besarnya dosa diibaratkan oleh Nabi SAW seperti buih lautan.
       Jadi, istri mempunyai hak-hak atas laki-laki, begitu juga sebaliknya. Misalnya: Jika istri mau pergi, maka dia harus izin kepada suaminya. Tapi yang dimaksud di sini adalah laki-laki yang tanggung-jawab, bukan laki-laki yang brengsek. Bahkan untuk mengerjakan puasa sunnah saja, istri harus pamit kepada suami. Kenapa? karena kalau istri berpuasa, kan tidak boleh disentuh. Pertanyaannya, mampukah suaminya bertahan atas kondisi itu jika dia terus-menerus minum "extra joss". ;-)
       Aturan-aturan timbal balik hak dan kewajiban antar suami-istri itulah yang disebut dengan mu'asyarah bil ma'ruf (Keseimbangan antara hak dan tanggung-jawab). Kalau semua ini sudah ditepati, maka Allah SWT akan memberikan tiga hal, yaitu: Sakinah, Mawaddah dan Rahmah.
         Sakinah (ketenangan) itu berbeda dengan kesenangan. Kalau kesenangan itu berkaitan dengan Hidayah, maka akan menjadi ketenangan. Sedangkan jika kesenangan berkaitan dengan nafsu, maka yang terjadi adalah nikmat membawa derita, padahal yang benar adalah derita membawa nikmat.
       Barang-barang haram itu itu biasanya nikmat membawa sengsara. Sedangkan barang-barang yang berpahala itu biasanya derita membawa nikmat. Yang ngawur adalah derita membawa derita. Misalnya: Wis goblok, melarat, ndak masuk Islam. Itulah yang disebut dengan orang yang rugi di dunia dan di akhirat sekaligus.
       Ada cerita, saya mempunyai teman di Amerika. Dia adalah anak muda yang cerdas dan saleh menurut ukuran agama Katholik, karena dia rajin ke Gereja. Tidak semua orang Kristen Katholik rajin ke gereja, karena menurut penelitian sekitar 65 % gereja di Eropa itu kosong, tidak ada jama'ahnya. Bahkan anak-anak kita yang di Melbeurne – Australia membeli bekas gereja dengan harga murah.
       Pemuda ini menjadi pendamping saya untuk berbicara maupun bermusyawarah selama saya di Amerika. Anak muda ini sudah lama ketemu dengan saya, sehingga sepertinya dia ada kepercayaan terhadap saya. Dia berkata: Saya minta pertimbangan Anda. Bagaimana kalau saya menjadi pastor?. Saya menjawab: "Menurut pendapat saya, itu adalah hak kamu. Cuma, untung kok yang mau menjadi pastor itu kamu. Seandainya yang jadi pastor itu ayah kamu, sekarang kamu ada di mana?". Dari situ, dia mulai tertarik untuk belajar Islam. Saya lanjutnya jawaban saya: "Kalau semua orang tidak kawin, maka dunia ini akan tutup dalam waktu 80 tahun lagi". Akhirnya dia mulai belajar Islam, dan kabarnya dia akan masuk Islam. Kalau memang dia mau masuk Islam, dia ingin pernyataan masuk Islam-nya dilakukan di pesantren Al-Hikam Malang. Jadi, jika kamu normal, maka kamu harus kawin. Perkoro durung iso, yo ndungo.
    
Sebagaimana Al-Qur’an telah mengajarkan beberapa doa yang mengarah kepada pembentukan keluarga yang shalih. Di antaranya adalah doa yang biasa dibaca oleh nabi Zakaria ‘alahis salam:
šÏ9$uZèd $tãyŠ $­ƒÌŸ2y ¼çm­/u ( tA$s% Éb>u ó=yd Í< `ÏB šRà$©! Zp­ƒÍhèŒ ºpt7ÍhsÛ ( š¨RÎ) ßìÏÿxœ Ïä!$tã$!$# ÇÌÑÈ  
di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". (QS. Ali Imran [3]: 38)
 Juga doa yang biasa dibaca oleh ibadurrahman, hamba-hamba Ar-Rahman:
tûïÏ%©!$#ur šcqä9qà)tƒ $oY­/u ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurør& $oYÏG»­ƒÍhèŒur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur šúüÉ)­FßJù=Ï9 $·B$tBÎ) ÇÐÍÈ  
dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. QS. Al-Furqan [25]: 74)
Éb>u ó=yd Í< z`ÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÊÉÉÈ  
"Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh". (QS. Ash-Shaaffat [37]: 100


Wallahu a’lam bish-shawab.

1 komentar:

Edufunia Right. Diberdayakan oleh Blogger.