Minggu, 16 Maret 2014

Aliran-Aliran Islam Di Indonesia

SKETSA ISLAM INDONESIA DI MASA LAMPAU & MASA KINI


       Sebagai intelektual atau calon intelektual, kamu (para santri Pesma Al-Hikam Malang, red.) harus mengerti aliran-aliran dalam Islam, agar tidak seperti katak dalam tempurung. Oleh karena itu, malam ini saya akan memberikan gambaran secara umum mengenai aliran-aliran Islam yang masuk ke Indonesia. Jadi, judul pengajian malam ini adalah tentang aliran-aliran Islam di Indonesia. Tentu tidak pantes kalau saya sebagai pengasuh Al-Hikam yang dikenal sebagai salah seorang yang berusaha merakit Ukhuwah Islamiyyah – baik di Indonesia maupun di dunia (beliau adalah sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) )- sedangkan kamu semua tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Kalau sampai kamu ditanya orang, Apa yang dikerjakan oleh Pengasuhmu?. Jika kamu tidak bisa menjawab, tentu tidak pantes. Begitu juga tidak pantes, kalau kamu ditanya; Apa yang dimaksud dengan Syi'ah itu? Lalu kamu menjawab; "Tetangga saya" Hehehe.... Oleh karena itu, saya akan membuat gambaran tentang aliran Islam di Indonesia secara sekilas, karena kalau harus membahas perbedaan-perbedaan aliran dalam Islam secara mendalam, tentu ada mata kuliah tersendiri.

       Islam masuk di Indonesia pada abad pertengahan. Pada umumnya, golongan yang membawa Islam ke Indonesia bukanlah penguasa, melainkan para pedagang. Mereka datang dari negeri Yaman, terutama dari Yaman Selatan yang di sana ada kota bernama Tarim yang berada di kawasan Hadramaut. Di daerah itu banyak sekali orang alim sekaligus sufi. Sufi dalam hubungannya dengan nurani, dan alim dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan.
       Selain orang-orang dari Yaman, para penyebar Islam juga berasal dari India dan Gujarat. Ciri khas dua negara ini adalah adanya persenyawaan antara agama dan budaya yang sangat kental. Mereka masuk ke Indonesia untuk berdagang sekaligus menyebarkan Islam. Akhirnya pada abad pertengahan itu, mulai timbul gerakan Islamisasi di Indonesia. Pada saat itu, Indonesia sudah didominasi oleh agama Hindu dan Budha. Hindu dengan Majapahit-nya dan Budha dengan Sriwijaya-nya. Selanjutnya terjadilah Islamisasi melalui gerakan kultural, bukan melalui sistem pemerintahan maupun melalui peperangan, melainkan melalui persenyawan antara agama dan budaya setempat. Hal ini memungkinkan untuk terjadi, karena yang membawa agama Islam ke Indonesia adalah orang-orang yang agamis sekaligus budayawan. Adapun para pemimpin penyebar Islam ini kemudian disebut dengan Wali Songo. Jadi, Wali Songo itu adalah pemimpinnya, karena wali itu sebenarnya sangat banyak.
       Ketika Islam masuk di Indonesia, Indonesia saat itu sudah penuh dengan budaya, baik budaya lokal Indonesia – misalnya: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Indonesia Timur, dsb. – yang sudah sangat kental sebagai adat istiadat, maupun adat istiadat yang sudah bersenyawa dengan Hindu-Budha. Kemudian Islam baru masuk untuk melakukan proses Islamisasi. Oleh karena itu, pendekatan budaya di dalam proses Islamisasi menjadi sangat mungkin terjadi, mengingat faktor pembawanya dan faktor ajarannya. Yaitu para pembawa Islam saat itu merupakan muballigh sekaligus budayawan, sedangkan ajaran Islam yang dibawa ke sini adalah ajaran madzhab Imam Syafi'i RA. Ajaran Imam Syafi'i RA ini terkenal mempunyai toleransi terhadap budaya, sepanjang budaya itu tidak bertabrakan secara diametral dengan pokok-pokok ajaran Nabi Muhammad SAW.
       Sikap Islam ala ulama' Syafi'iyyun di atas tadi mempunyai toleransi terbatas terhadap budaya, karena budaya sendiri terbagi menjadi beberapa kategori:
v  Budaya yang netral dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Misalnya; Sopan santun. Budaya sopan santun itu bersifat netral, karena Islam tidak mengatur hal itu. Budaya sopan santun ini bisa dimasukkan dalam kelompok "أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ" . Maksudnya; Perkara-perkara seperti itu lebih kalian ketahui, karena merupakan urusan duniamu. Contoh lagi adalah: Saya memakai kopyah dengan tinggi 9 cm, sedangkan orang lain ada yang menggunakan kopyah dengan tinggi 14 cm. Hal-hal seperti ini tidak diatur oleh Islam, karena yang diatur oleh Islam adalah ketentuan menutup aurat.
v  Budaya yang serasi dengan agama dan dapat dijadikan alat agama. Misalnya; Gotong royong. Pada waktu Islam datang, di Indonesia sudah ada budaya gotong royong. Contoh; Ketika ada orang membikin rumah, maka para tetangga sekitarnya berhenti bekerja sejenak untuk ikut membantu mendirikan rumah tetangganya. Budaya seperti itu 'kan bagus, karena selaras dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Maaidah :
(#qçRur$yès?ur n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur 4 (
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan
Jika suatu budaya itu selaras dengan agama, maka menurut Imam Syafi'i RA, budaya itu bisa diperkuat oleh agama. Inilah yang melandasi lahirnya kaidah العادة المحكمة (Adat istiadat dapat dijadikan pegangan hukum). Contoh lain; Anak menghormati orang tua dengan cara cium tangan sudah ada di Indonesia sebelum Islam datang. Kalau seseorang lewat di depan orang yang lebih tua, dia akan menunduk atau mengucapkan permisi.
v  Budaya yang salah namun masih bisa diperbaiki. Misalnya; Pada zaman dahulu, orang yang keluarganya meninggal dunia akan melakukan ziarah kubur dan selametan, akan tetapi niatnya tidak ditujukan kepada Allah SWT, melainkan kepada Kakik Danyang, Nyi Roro Kidul, Mak Lampir, dsb. Semua itu dilakukan dalam rangka menghormati para leluhur mereka.

            Menurut Imam Syafi'i RA, di dalam Islam, menghormati leluhur itu hukumnya sunnah, akan tetapi harus disertai tauhid atau meng-esa-kan Allah SWT, tidak boleh musyrik. Oleh karena itu, kemudian diaturlah bagaimana carannya budaya selametan tetap jalan dan leluhur tetap dido'akan, akan tetapi do'anya ditujukan kepada Allah SWT. Dari sinilah timbul kegiatan tahlil, talqin, membaca Qur'an, membaca shalawat, dsb. Budaya-budaya seperti ini tidak ada di luar Asia Tenggara. Orang yang tinggal di Mesir, di Saudi Arabia, dsb. kalau mereka meninggal dunia, ya sudah nggak ada urusan apa-apa lagi. Jadi, kegiatan tahlil, talqin, dsb. merupakan proses sublimasi atau pengalihan semangat ruh tauhid kepada Allah SWT untuk menggantikan ruh syirik, dengan tanpa merubah bentuk budaya yang sudah ada. Kalau kamu ditanya, Apa dalil tahlil?. Dalilnya adalah; Kita diperintahkan untuk membaca kalimat Laa Ilaaha Illallah, sedangkan di dalam tahlil juga membaca kalimat tersebut. Adapun mengenai sampai-tidaknya pahala kepada si jenazah, maka jika memang nyampai, ya Alhamdulillah; kalau tidak, ya ndak apa-apa, (nyampek atau tidak sama2 g ada yang tahu... wong g ada kwitansinya... :-) toh sudah membaca Laa Ilaaha Illallah yang sudah pasti mendatangkan pahala. Jadi, yang dipersoalkan adalah kenapa pahala tahlil itu kok ditransfer?, sedangkan muatan dzikir di dalam tahlil sama sekali tidak dipersoalkan oleh orang-orang di luar madzhab Syafi'i RA. 

            Contoh lain: Adat istiadat ketika panen padi. Pada masa dahulu, orang yang panen padi akan membawa tumpeng dan diletakkan di pematang sawah, kemudian tumpeng itu dibiarkan sebagai persembahan kepada Dewi Sri. Budaya seperti itu dicegah oleh Islam, namun masyarakat dahulu tetap diperkenankan untuk membawa tumpeng, hanya saja tumpeng itu diperuntukkan bagi orang yang mencangkul dalam status sebagai shadaqah. Setelah itu, bersama-sama memohon kepada Allah SWT. Demikian ini adalah contoh-contoh budaya yang salah, namun masih bisa diperbaiki. Nah, yang begini-begini inilah oleh orang yang bukan Syafi'iyyun, dianggap sebagai bid'ah, padahal pada awal Islam di Indonesia, hal itu justru dianggap sebagai alat dakwah. Demikian juga dengan tradisi Maulid Nabi Muhamamad SAW. Anehnya, Maulid Nabi SAW dianggap bid'ah dhalalah di Saudi Arabia, namun kalau memperingati rajanya, justru tidak dianggap bid'ah. Saya pernah diundang untuk menghadiri acara untuk memperingati kekuasaan King Abdul 'Aziz, padahal acara itu sama saja dengan Maulid Nabi SAW.
v  Budaya yang harus dipotong (dihilangkan), karena merupakan budaya yang khurafat, mungkaraat, atau maksiat, dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Contoh; Di wilayah Lombok sebelah timur terdapat suku Sasak. Di dalam suku itu ada budaya kalau seorang pemuda akan menikah, maka sebagai tanda bahwa pemuda itu cinta kepada calon istrinya, dia harus menculik dan membawa lari calon istrinya itu. Beberapa hari kemudian, ketika si wanita sudah luset, baru mereka berdua bersama-sama menghadap kepada calon mertua mereka. Adat istiadat seperti ini jelas tidak boleh dan tidak bisa diperbaiki lagi, karena budaya ini sama dengan perzinahan. Oleh karena itu, budaya seperti ini harus dipotong.

       Di dalam proses Islamisi secara kultural ini akhirnya mengakibatkan dua hal besar, yaitu:
v  Masyarakat Indonesia berbondong-bondong masuk agama Islam dengan kesadaran, tanpa paksaan, dan tanpa perang, namun melalui akulturasi budaya. Jadi, tidak ada perang agama di Indonesia. (berbeda dengan negara-negara lain).
v  Kalau gerakan dakwah kultural tadi sudah tuntas, berarti orang sudah dipindahkan dari budaya kafir menuju pada budaya Islam, atau dari budaya syirik kepada budaya tauhid. Ini kalau dakwah kultural tersebut benar-benar sudah khatam. Akan tetapi ada juga orang-orang yang pembinaannya masih belum khatam, namun sudah ditinggal wafat oleh generasi Wali Songo. Akhirnya mereka hanya mendapatkan separo ilmu. Mereka mengerti Laa Ilaaha Illallah, namun tidak mengerti shalat. Misalnya; Orang-orang kebathinan yang belum selesai di-Islam-kan secara tuntas. Kelompok ini kemudian menjadi kelompok abangan. Kelompok abangan ini bukan berarti tidak percaya kepada Allah SWT, hanya saja proses Islamisasi pada mereka masih belum tuntas pembinaannya.

        Pada saat jumlah penduduk Indonesia masih sebanyak 45 juta, sekitar 90 % masyarakat di Indonesia masuk Islam melalui proses akulturasi di atas. Selanjutnya datanglah gelombang pembaharuan Islam di Indonesia yang dimotori oleh orang-orang dari Saudi Arabia dan sebagian ulama'-ulama' Mesir. Mereka masuk ke Indonesia ketika masyarakat Islam Indonesia terdiri dari kaum santri dan kaum abangan. Gelombang kedua yang membawa bendera pembaharuan Islam ini masuk ke Indonesia, akan tetapi mereka tidak bisa mengerti adanya proses akulturasi Islam dengan budaya setempat. Dalam pikiran mereka: "Islam di sini kok macem-macem, ada tahlillan, muludan, ini, itu, dsb; Sementara di negara saya tidak ada tradisi seperti ini". Dari sinilah tumbuh gerakan pemurniaan (purifikasi) Islam yang disponsori oleh Muhammadiyah. Sedangkan kelompok yang mewarisi proses Islamisasi melalui akulturasi tadi mengelompok dalam wadah bernama NU (Nahdlatul Ulama').
       Posisi Muhammadiyah terhadap NU maupun terhadap umat Islam adalah melakukan pemurniaan Islam dan modernisasi Islam, karena masyarakat Islam pada saat itu masih sangat tradisional. Misalnya; Santri-santri banyak yang tidak pernah memakai celana, ndak pakai sabuk (ikat pinggang), ndak pakai celana dalam, Jeding di Pondok-pondok Pesantren banyak lumutnya, dsb hahaha.... (kritikan buat pesantren NU yang kolot dan kotor). Sedemikian tradisionalnya umat Islam saat itu, akhirnya ada antisipasi berupa modernisasi. Jadi, para pembaharu Islam ini mengusung tema purifikasi (tashfiyah) dan modernisasi. Bagi Muhammadiyah, kurikulum di Pesantren-pesantren hanyalah menghabiskan waktu semata. Misalnya; Kurikulum fiqih. Pada tingkat dasar mempelajari Sullam Taufiq; tingkat lanjut mempelajari Fathul Qarib; tingkat menengah mempelajari kitab Fathul Mu'in; dan tingkat atas mempelajari kitab Fathul Wahab. Padahal semua kitab-kitab itu, bab-babnya sama, cuma keterangannya saja yang berbeda. Menurut Muhammadiyah, kurikulum seperti ini dianggap sebagai metodologi pembelajaran yang stagnan dan tidak memproses pemikiran ke depan. Oleh karena itu perlu ada modernisasi.
       Selain mengusung tema purifikasi dan modernisasi, gelombang pembaharu Islam di atas juga mengusung tema persatuan Islam dengan merujuk langsung kepada Rasulullah SAW. Menurut mereka; "Kenapa orang-orang NU memakai pendapat Imam Syafi'i, kok tidak memakai pendapat Al-Qur'an?". Oleh karena itu, slogan yang mereka usung adalah "Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits". Slogan ini sepertinya bener, tapi butuh penjelasan kembali. Memang kita harus kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits, akan tetapi bagaimana cara kembalinya?, (ini merupakan kritik buat muhammadiyah yang mengkritik NU) Al-Qur'an itu ibarat UUD  yang masih bersifat mujmal (global), sehingga Al-Qur'an itu harus dirinci lagi melalui metode Tafsirul Qur'an bil Qur'an (Menafsiri suatu Ayat Al-Qur'an dengan Ayat Al-Qur'an yang lain), atau melalui metode Tafsirul Qur'an bil Hadits (Menafsiri Al-Qur'an dengan Hadits yang berfungsi sebagai penjelas). Selanjutnya hasil tafsiran di atas masih harus dirinci lagi oleh pemikiran para ulama' yang dikondisikan oleh ruang dan waktu, dari sinilah kemudian lahir hukum positif Islam. Sama dengan UUD di Indonesia. Kalau ada orang tertangkap karena mencuri sepeda motor, maka dasar hukum untuk menangkapnya bukan mengacu pada UUD 45, melainkan mengacu pada ketentuan KUHP yang merupakan rincian UUD 45 yang jenjangnya sudah nomor kesekian. Ini bagaimana, orang disuruh kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, akan tetapi tidak diberi tahu bagaimana cara kembalinya?

       Karena kelompok pembaharu Islam ini menggunakan metode kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits, maka mereka tidak mau kembali kepada madzhab, karena madzhab dianggap sektarianitas atau melakukan pengkotak-kotakan umat Islam. Secara teoritis, kalau semua kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits, tentu akan bertemu pada satu titik. Akan tetapi karena banyak yang tidak mengetahui cara kembalinya, akhirnya sejumlah orang yang mengaku kembali ke Al-Qur'an dan Hadits, sejumlah itu pula madzhab yang muncul. Sekarang banyak mubaligh di TV-TV yang gayanya seakan-akan kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits, akan tetapi mereka sebenarnya nggak bisa membaca Al-Qur'an dengan baik. Para mubaligh itu hanya bisa bicara tentang budi pekerti, tapi tidak bisa menyebutkan Hadits-hadits Rasulullah SAW.
       Akhirnya apa yang terjadi?, Yang terjadi adalah konflik antara NU dan Muhammadiyah dalam wacana ijtihad, taqlid, bermadzhab, dsb. Semenjak saya kecil, pertengkaran antara NU dan Muhammadiyah ini begitu tajam, namun sekarang ini sudah ndak tajam lagi, karena orang yang mengaku kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits itu ternyata ndak bisa balik lagi – istilahnya; Iso budal, nggak iso mulih – karena mereka tidak mempunyai modal yang cukup untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits. Menang slogan ini ketika berupa wacana, tampak logis sekali, akan tetapi ketika harus difaktakan, banyak yang tidak bisa melakukannya. Coba anak-anak Pesma ini, misalnya ada seruan: "Wahai anak-anak Pesma, mari kita kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits. Tentu ndak mungkin bisa, karena membaca Al-Qur'an saja masih belum begitu lancar. Karena ndak mungkin melaksanakan slogan tadi, akhirnya banyak yang putus asa dan masing-masing orang mengikuti gurunya sendiri-sendiri. Padahal tindakan mengikuti gurunya sendiri-sendiri itu sama saja dengan bermadzhab. Pahaamm..?

       Akhirnya pertikaian antara NU dan Muhammadiyah mulai mereda. Mereka tetap bersatu sekalipun ada perbedaan di antara keduanya, karena sama-sama ngertinya; sedangkan belakangan ini bersatu karena sama-sama ndak ngertinya. Nah, sekarang ini, konflik antara NU dengan Muhammadiyah menurun jauh dibandingkan dengan kondisi pada waktu saya dulu. Mereka dulu berkelahi dan masing-masing merasa paling berhak masuk surga. Baik warga NU maupun Muhamamdiyah sudah berbeda, sekalipun tidak ada ilmunya, bahkan di pasar-pasar rombeng sekalipun. Sekarang ini semuanya sudah lumer, dan yang tersisa di dalam konflik antara NU dan Muhammadiyah ini adalah fanatisme golongan, bukan lagi tentang wacana keagamaan. Artinya; konflik sudah bergeser dari wacana aqidah dan syari'ah, menjadi wacana interest dan opportunity. Apalagi yang memimpin NU dan Muhammadiyah sekarang ini, ngajinya satu pondok (abah hasyim dan din syamsuddin sama-sama alumni GONTOR).  Lumayan saya lebih dulu dari pada pemimpin Muhammadiyah sekarang, sehingga dia ndak ngelama'. Pada saat saya kelas 6, dia masih duduk kelas 1. Persaingan antara NU dan Muhammadiyah ini menurun drastis, setelah ada regenerasi, yaitu semenjak tahun 80'-an. Persaingan yang tertinggal sekarang adalah persaingan nama, simbol-simbol,

       Sekarang ini, NU mulai mengejar ketertinggalan dalam hal manajemen, kebersihan, metode, dll., sedangkan Muhammadiyah yang merasa kering karena ndak ada dzikir, juga mulai ngimpor dzikir. Akhirnya terjadilah crossline dan saling membutuhkan. Ibaratnya; Yang NU tidak bisa jeding-nya lumuten terus, sedangkan yang Muhammadiyah juga tidak bisa pakai celana terus. Makin lama, golongan Muhammadiyah ini ingin hatinya terisi, karena sebelumnya mereka itu tergolong rasionalistik, bukan sufistik. Sedangkan kalangan NU kebanyakan sufistik, sehingga terkadang tidak bisa dibedakan antara orang sufi dengan dukun. Ono wong nggak genah, jare karomah, wali, dsb. (kritik buat NU yang mengkultuskan Kiainya)

       Sekarang ini muncul gelombang baru yang mempersoalkan masalah khilafiyah di atas, malah Muhammadiyah juga menjadi korban, sebagaimana yang dialami oleh NU, yaitu suka kecurian masjid dan mushalla. Padahal dulu yang suka mencuri masjid dan mushalla milik NU adalah Muhammadiyah, namun sekarang ganti masjid dan mushalla Muhammadiyah yang dicuri oleh HTI, dsb. Mungkin ini adalah hukum karma. Hahaha… (just kidding dan memang begitu yang di keluhkan beberapa Pengurus Pusat Muhammadiyah)

Adapun aliran yang masuk di Indonesia saat ini antara lain:
       HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Arti dari namanya saja sudah terlihat sangat politis, yaitu "Kelompok Pembebasan Indonesia". Maksudnya, suatu negara akan dibebaskan dari sistem non-khilafah, kemudian dikembalikan kepada sistem khilafah.
       PKS. PKS ini gerakannya seperti MLM (Multi Level Marketing). Yang membuat sistem ini dulunya adalah Sayyid Quthub, dengan 'event organizer-nya' bernama Hasan Al-Banna. Dari sini lahirlah kelompok Ikhawanul Muslimin (IM) di Timur Tengah. IM ini kerjaannya melakukan kudeta di mana-mana. IM ini membuat gerakan Islam dengan sistem MLM yang bertujuan untuk melakukan kudeta, terutama di negara-negara yang dianggap tidak Islami atau sekuler atau yang dianggap tidak sejalan dengan madzhab IM.
       Sebenarnya PKS dan HTI satu badan, hanya beda sayap. HTI itu sayap IM di bidang manuver kerakyatan, sehingga kerjaannya demo pokoknya yang penting rame. Sayap kedua adalah PKS yang menggunakan gerakan-gerakan yang lebih demokratis. Kalau nanti sudah menjadi Presiden. baru mereka akan bersatu. PKS sekarang ini jarang demo, padahal dulu mereka sering demo. Bisa jadi karena Menteri Pertanian saat ini adalah dari golongan mereka, sehingga kalau melakukan demo, akan kenek batuke dewe.
       MMI (Majlis Mujahidin Islam) Majelis Mujahidin lahir berawal dari keprihatinan para tokoh gerakan Islam yang pernah digembleng di “pesantren Orde Baru” seperti Irfan Suryahardi, Deliar Noer, Syahirul Alim, Mursalin Dahlan, Mawardi Noor dan lain-lain. Mereka terdorong untuk mengadakan forum kecil, berdiskusi yang ujungnya menggagas lahirnya suatu lembaga yang bisa menyatukan visi kaum muslimin yang hendak memperjuangkan tegaknya syariat Islam, yaitu Majelis Mujahidin. di bawah pimpinan Abu Bakar Ba'asyir. MMI ini sifatnya tidak internasional, melainkan regional. MMI ini berpusat di Pakistan, namun mempunyai kegiatan edar di Asia Tenggara. Pada zaman Pak Harto. Orang-orang MMI ini lari ke Malaysia karena dikejar-kejar oleh TNI, dan setelah reformasi, mereka kembali ke Indonesia, tepatnya ke Ngruki.
       Jaulah/Jamaah Tabligh. Pengikut kelompok ini biasanya memakai celana yang diwingkis dan pergi dari satu masjid ke masjid lain. Sepertinya mereka ingin melacak kehidupan Rasulullah SAW seperti aslinya. Akhirnya, mereka memakai bakiak, ndak mau pakai sandal biasa. Tapi  anehnya mereka kok bawa pena, padahal Nabi SAW tidak pernah membawa pena, dan Nabi SAW juga tidak pernah menanak nasi di atas kompor. Pusat kelompok Jaulah ini ada di Pakistan.
       Al-Qaeda. Kelompok ini tergolong kelompok yang paling keras. Semua orang selain mereka dianggap kafir, sehingga kelompok ini disebut juga dengan Hizbut Takfiri (Kelompok yang suka mengkafir-kafirkan). Semua orang yang tidak berada dalam kelompok ini dianggap kafir dan boleh dibunuh.
       Salafy atau Wahaby. Kelompok ini berasal dari Saudi Arabia. Kelompok ini yang menganggap sembarang hal sebagai bid'ah. Apa saja yang tidak ada di Saudi Arabia, dianggap tidak boleh menurut Islam. Inilah susahnya menghadapi orang Wahaby. Mereka merasa Rasulullah SAW hidup di Saudi Arabia, akhirnya apa yang tidak ada di sana dianggap bid'ah, padahal Islam itu Rahmatan lil 'Alamin, bukan Rahmatan lis Sa'udiiyyin!. Mereka juga paling sulit untuk diajak ngomong pengembangan kebudayaan. Mereka kaya pun sebenarnya karena barokah do'a Nabi Ibrahim AS yang selalu berdo'a agar negara Hijaz itu aman dan makmur.
       Syi'ah. Pusatnya di Iran. Mereka ini kelompok yang pro Sayyidina Ali RA, namun kontra dengan para Khulafaur Rosyidin yang lainnya. Mereka juga tidak percaya kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim, sehingga tidak mau memakai Hadits-hadits beliau berdua. Bagi Syi'ah, tidak boleh ada orang yang mempimpin Islam, kecuali berasal dari keturunan Sayyidina Ali RA. Kalau mereka mengumandangkan adzan, ada tambahan lafadz;  وأن عليا ولي الله. Kalau mereka mendirikan shalat, mereka tidak mau sujud di atas karpet, melainkan harus sujud di atas tanah atau batu. Oleh karena itu, mereka biasanya membawa batu seperti kereweng (pecahan genting) yang berasal dari Karbala yang digunakan sebagai tempat menempelkan dahi ketika sujud. Oleh karena itu, pada muka banyak terdapat tanda hitamnya. Kalau wudhu' mereka mau mencopor sepatunya, dan mereka shalat sehari semalam sebanyak 3 kali, yaitu; Dzuhur-Ashar digabung menjadi satu, Maghrib-Isya' digabung menjadi satu, dan Shubuh. Baik ketika bepergian maupun ketika di rumah saja. Yang paling menarik adalah mereka memperbolehkan perkawinan tanpa saksi, asalkan sama-sama suka. Inilah yang paling banyak peminatnya.
       Semua kelompok yang saya sebutkan ini sekarang masuk ke Indonesia secara bersama-sama dan masing-masing mencari kekuatan massa. Karena massa Islam di Indonesia ini berada di NU dan Muhammadiyah, maka yang dikeroyok juga NU atau Muhammadiyah. Oleh karena itu, pada saat ini ada kerawanan keretakan Ukhuwah Islamiyah di Indonesia.
       Di antara aliran-aliran di atas, ada yang berupa aliran agama, misalnya; Syi'ah dan Wahaby; ada yang beraliran politik, misalnya; PKS dan HTI. Sedangkan MMI itu kelompok garis keras. Adapun FPI itu kelompok garis keras, tapi kelas lokal. Pengikut FPI ini banyak yang berasal dari NU. Mereka itu yang bosen melihat kesabaran NU, akhirnya langsung beli pentungan. Tapi yang diajarkan di kelompok FPI juga Riyadhus Shalihin sebagaimana NU. Jadi, FPI itu bukan bagian dari gerakan internasional, mereka hanya kelompok lokal yang senang bersikap keras, dan biasanya dipimpin orang keturunan Arab.

       Selain aliran-aliran di atas, ada juga Yayasan-yayasan yang tidak bergerak langsung, melainkan berfungsi sebagai underbow dari aliran di atas. Misalnya; Yayasan Al-Bayyinat. Yayasan ini sangat membenci Syi'ah. Sebenarnya merekalah yang melakukan demo di Madura terkait dengan masalah Syi'ah.
       Ketetapan saya sudah pernah bertemu 'bos-bos' dari aliran-aliran di atas. Mereka ndak mau ngelamak, karena saya sudah kenal 'bos' mereka. Letak perbedaan antara saya dengan semacam kelompok PKS adalah; kalau mereka melakukan demo anti Israel, mereka hanya berdemo di Bundaran HI, sedangkan kalau saya mengurusi Palestina, maka saya langsung pergi ke Palestina; kalau mengurusi Syi'ah, langsung ke Iran; kalau mengurusi Sunni langsung ke Irak; dsb.
       Hampir semua negara Timur Tengah melarang keberadaan IM, kecuali Mesir. Mulai Syiria, Yordan, Libanon, Saudi Arabia, dsb. semuanya menolak keberadaan IM, karena mereka membuat gerakan yang ujung-ujungnya adalah kudeta. Karena negara-negara itu tidak mau dikudeta, akhirnya IM harus dienyahkan. Oleh karena itulah, di Indonesia Hizbut Tahrir dinamakan HTI, hal ini menunjukkan ada HT Malaysia, HT Australia, dsb, namun mereka semua masih berada dalam koordinasi IM. Karena IM ini dibenci oleh masing-masing negara, akhirnya keberadaan mereka tidak jelas, begitu juga dengan markas mereka. Saya menduga, markas IM berada di Kairo.

       Pembahasan kali ini adalah penting untuk kamu semua. Bukan berarti saya menyuruh kaum untuk mencaci maki, melainkan agar kamu semua mengetahui bagimana konstalasi umat Islam di Indonesia, sehingga kamu bisa melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi bangsa. Ingat!, Al-Hikam adalah tempat belajar agama, dan tidak boleh ada politisasi di sini. 

Untuk melanjutkan membaca tentang lebih detail tentang penjelasan aliran-aliran dan ideologi-ideologi islam silahkan buka link berikut :  Agama, Aliran dan Ideologi Islam part 1

2 komentar:

  1. ini referensinya dari bapak penceramah itu?

    BalasHapus
  2. betul mb' psikolog, itu full ceramah beliau...

    BalasHapus

Edufunia Right. Diberdayakan oleh Blogger.